Wednesday, 11 February 2015

S.A.P Desain Pembelajaran PAI

Satuan Acara Perkuliahan/Rencana Pembelajaran Semester
Berdasarkan Permen No. 49 tahun 2014 SNPT
Pasal 12

INSTITUT AGAMA ISLAM IMAM GHAZALI (IAIIG) CILACAP

=================================


Program Studi
:
PAI
Revisi ke
:
.......................................................
Kode / Nama Mata Kuliah   
:
PAI.003 / Desain Pembelajaran PAI
Tgl revisi 
:
.......................................................
Satuan Kredit Semester
:
2 SKS
Tgl mulai berlaku
:
2 Februari 2015
Jml Jam kuliah dalam seminggu
:
110 Menit tatap muka
....... Menit pekerjaan di luar kelas
Dosen penyusun
:
Ahmad Mukhlasin, S.Pd.I., M.Pd.I
Jml Jam kegiatan laboratorium
:
....... Menit
Penanggungjawab Keilmuan
:
Hj. Ma'rifah, S.Pd
Standar Kompetensi
:
Mahasiswa mampu  memahami, mengembangkan konsep Desain Pembelajaran PAI, dan mampu menerapkan dalam proses pembelajaran sesuai teori dalam pembahasan / sub pembahasan.
Proses Integrasi-interkoneksi di level filosofis:





a.    Perkuliahan Desain Pembelajaran PAI mendorong mahasiswa untuk selalu bertindak objektif, berpikir logis dan kreatif
b.    Proses Integrasi-interkoneksi di level strategi :  Kuliah Desain Pembelajaran PAI dengan berbagai strategi pembelajaran aktif dan menyenangkan, yang mendorong terjadinya kerjasama dan proses inquiry sehingga dengan diintegrasikan berdasar Mata Pelajaran PAI (Fiqih, Quran Hadits, SKI, Aqidah Akhlak dan Bahasa Arab) diharapkan mahasiswa dapat mengamalkannya pada kehidupan dan keilmuan sehari - hari di lingkungan sosial maupun akademik.
Matakuliah pendukung Integrasi-Interkoneksi:       





a.    Fiqih,
b.    Quran Hadits,
c.    SKI,

d.    Aqidah Akhlak dan
e.    Bahasa Arab          


Level integrasi-interkoneks :





a.   Strategi
b.    Pengembangan
c.    Analisis Teori



Deskripsi Umum Mata kuliah: 





a.    Mata kuliah ini memberikan bekal kemampuan mahasiswa dari penguasaan materi Desain Pembelajaran PAI yang nantinya diterapkan dalam kegiatan Pembelajaran sebagai bekal menjadi pendidik (guru) yang profesional.
Untuk mencapai tujuan tersebut selain melalui ekspositori dan diskusi, mahasiswa diberikan tugas secara kelompok dan tugas individu juga penggalian strategi pembelajaran aktif.
b.    Selain itu diberikan beberapa konsep yang merupakan pengembangan materi Desain Pembelajaran PAI, agar mahasiswa dapat mengembangkan kemampuan analisis dan kreativitas dalam pembelajaran PAI.
c.    Pelaksanaan pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran aktif berbasis inquiry: TOPIC adventure, bermain peran, Praktik, Analisis Masalah dsb.







Pert
ke :
Kompetensi Dasar
Indikator
Pokok bahasan/ Materi
Aktifitas Pembelajaran
Referensi/
Sumber Belajar
1

Kontrak Belajar, Memahami konsep umum dan Fungsi Desain Pembelajaran PAI


- Memahami dan sanggup mematuhi kontrak belejar
- Memahami konsep umum tentang Desain Pembelajaran PAI
- Memahami Fungsi Desain Pembelajaran PAI
- Memahami Pola Pembahasan tentang Desain Pembelajaran PAI

1.  Pengenalan Materi
2.  Pengertian Desain pembelajaran PAI
3.  Fungsi Desain pembelajaran PAI
4.  Pola Pembahasan Desain pembelajaran PAI

1.     Kuliah dibuka dengan basmalah
2.     Dosen menggali pengamatan mahasiswa terhadap pemahaman tentang konsep umum tentang Desain Pembelajaran PAI
3.     Mahasiswa memahami Desain pembelajaran PAI
4.     Mahasiswa Memahami Fungsi Desain pembelajaran PAI
5.     Mahasiswa Memahami Pola Pembahasan Desain pembelajaran PAI
6.     Mendiskusikan: Apa Desain Pembelajaran PAI ?
7.     Mendiskusikan: Fungsi Desain pembelajaran PAI ?
8.     Mendiskusikan: Pola Pembahasan Desain pembelajaran PAI ?
9.     Kesimpulan
10.   Pembentukan kelompok

[1], [5], [12], [15], [19]
2
Memahami Model-model Desain Pembelajaran dan penerapan dalam Pembelajaran PAI
- Menyebutkan Model-Model Desian Pembelajaran
- penerapan dalam pembelajara PAI
1. Model desain Pembelajaran :
-  Model ADDIE,
-  Model ASSURE,
-  Model Dick dan Carey,
-  Model PPSI,
-  Model AT dan T,
-  Model Degeng,
-  Model Pengembangan Instruksional (MPI).
2. Penerapan Model Pembelajaran dalam pelajaran PAI

1.     Kuliah dibuka dengan basmalah
2.     Penjelasan Model-model desain Pembelajaran
3.     Diskusi model-model pembelajaran dalam penerapan pada Pembelajaran PAI
4.     Praktik penerapan model-model pembelajaran dalam penerapan pada Pembelajaran PAI


[1], [4], [5], [10], [13]
3
Memahami sistem dalam pembelajaran PAI
-  Mahasiswa Memahami Bagaimana konsep dasar pendekatan system menurut para ahli dan penerapannya dalam pembelajaran PAI
-  Mahasiswa mampu menjelaskan 5 manfaat pendekatan system dalam pembelajaran
-  Mahasiswa mampu menyebutkan 5 komponen-komponen dalam sistem pembelajaran
-  Mahasiswa mampu mengetahui dan memahami Apa saja kriteria dan variabel-variabel yang dapat mempengaruhi sistem pembelajaran

1. konsep dasar pendekatan system menurut para ahli
2. Manfaat pendekatan system dalam pembelajaran
3. Komponen -komponen dalam sistem pembelajaran
4. kriteria dan variabel-variabel sistem pembelajaran
1.     Kuliah dibuka dengan basmalah
2.     Penyampaian teori
3.     Eksperimen teori
4.     Tanya – jawab ( inter kelompok)
5.     Diskusi kelas ( antar Kelompok )
6.     Penyimpulan diskusi
[7], [10], [21], [22], [23]
4
Memahami karakter peserta didik dan materi ajar PAI untuk penentuan kegiatan belajar
-  Mahasiswa mampu memahami hakikat Pendekatan Nilai dan Sikap
-  Mahsiswa mampu memahami bagian dalam proses Pendekatan Nilai dan Sikap
-  Mahasiswa mampu memahami model pembelajaran sikap
-  Mahasiswa Menguasai dan Memahami Materi Ajar sebagai Sumber Kegatan

1.  Definisi dan hakikat Pendekatan Nilai
2.  Definisi  pendekatan Sikap
3.  Bagian-bagian  dalam proses Pendekatan Nilai dan Sikap
4.  Model pembelajaran sikap
5.  Sifat Materi Ajar pada Pendukung Integrasi-Interkoneksi

1.  Kuliah dibuka dengan basmalah
2.  Teori
3.  Membahas tentang materi / sub pokok bahasan pada Mapel PAI
4.  Diskusi Kelompok tentang:
-  Nilai
-  Sikap
-  Karakter Sub Pokok Bahasan PAI


[3], [9], [12], [16], [20], [23]
5
Metode-metode dalam pembelajaran PAI
-  Mahasisiwa mampu menjelaskan metode pembelajaran
-  Mahasiswa Mampu menetukan metode dalam satu tema pembahasan PAI
-  Mahasiswa mampu memanfaatkan Sains sebagai alat bantu pemahaman Pembelajaran PAI

1.  Pengertian metode pembelajaran dan Macamnya
2.  Cara Penentuan Metode dalam Pembelajaran PAI
3.  Pengertian sains dan cara penggunaan sebagai alat bantu Pembelajaran PAI
1.   Kuliah dibuka dengan basmalah
2.   Masing-masing Kelompok mendiskusikan Metode dalam Pembelajaran PAI
3.   Masing-masing Kelompok praktik penggunaan Metode dalam Pembelajaran PAI


[10], [12], [15], [19]
6
Media-media dalam pembelajaran PAI
-  Mahasiswa Mampu memahami 5 dari :
1.     Jenis
2.     Karakter
3.     Peralatan
4.     Dan pemanfaatan Program Media



1.  Jenis
2.  Karakter
3.  Peralatan
4.  Dan pemanfaatan Program Media
5.  Penerapan jenis media dan karakter pada Pembelajaran PAI

1.   Kuliah dibuka dengan basmalah
2.   Teori tentang Media-media dalam pembelajaran PAI
3.   Diskusi tentang media sesuai tugas kelompok
4.   Penjelasan individu mahasiswa tentang peralatan media dan pemanfatannya dalam Pembelajaran PAI
5.   Tugas Rumah Pembuatan Media sesuai bahasan kelompok

[2], [12]
7
Desain Pembelajaran Indoor / outdor dalam pembelajaran PAI

-  Mahsiswa Mampu membedakan pembelajaran Indoor / outdor dan sifatnya.
-  Mahsiswa Mampu mengklasifikasikan dan menerapkan pembelajaran Indoor / outdor pada pembelajaran PAI
1.   Pengertian Pembelajaran:
-  Indoor
-  outdoor
2.   sifat-sifat pembelajaran indoor dan outdoor.
3.   Penerapan dalam Pembelajaran PAI

1.  Kuliah dibuka dengan basmalah
2.  Diskusi mahasiswa tentang pengertian pembelajaran dan sifatnya pembelajaran Indoor/outdoor
3.  Praktik kelompok

[11], [20], [23], [21]
U J I A N   T E N G A H   S E M E S T E R

8
Konsep Dasar Kurikulum
Mahasiswa Mampu memahami dan memaparkan Tentang:
1.     Pengertian
2.     Fungsi
3.     Komponen
4.     Jenis
5.     Pendekatan dan Orientasi
6.     Kompetensi dalam Kurkulum

Konsep Dasar Kurikulum:
1.     Pengertian
2.     Fungsi
3.     Komponen
4.     Jenis
5.     Pendekatan dan Orientasi
6.     Kompetensi dalam Kurkulum
1.   Kuliah dibuka dengan basmalah
2.   Mahasiswa mendidkusikan tentang konsep dasar kurikulum
3.   Mahasiswa menganalisis isi Kurikulum pembelajaran PAI
4.   Mahsiswa dalam satu kelompok membuat rancangan Kurikulum PAI dengan tingkatan tertentu sesuai pembagian.
[6], [17], [18, [15], [30]
9
Kalender Pendidikan
Mahasiswa memahami kalender pendidikan terkait:
1.     Fungsi
2.     Tujuan
3.     Dan Pegkonsepan Isi
1.    Pengertian kaldik
2.    Fungsi dalam KBM
3.    Tujuan disusunya Kaldik
4.    Rambu-rambu dalam mengkonsep kaldik

1.    Kuliah dibuka dengan basmalah
2.    Teori tentang kaldik
3.    Mahasiswa menganalisis fungsi dan tujuan 
4.    Mahasiswa membaca/memaparkan pengkonsepan kaldik

[6], [17], [18, [15], [24]
10
Program Tahunan, Program Semesteran, Silabus Pembelajaran dan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
Mahasiswa memahami devinisi, dan membuat desain tentang:
1.    Program Tahunan,
2.    Program Semesteran,
3.    Silabus Pembelajaran
4.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

1.    Program Tahunan,
2.    Program Semesteran,
3.    Silabus Pembelajaran
4.    Rencana Pelaksanaan Pembelajaran

1.  Kuliah dibuka dengan basmalah
2.  Teori Materi
3.  Analisis Materi
4.  Paparan Kelompok tentang teori materi
5.  Analisis tugas tentang pembahasan sesuai pembagian kelompok
6.  Desain individu tentang materi/pokok bahasan
[6], [17], [18, [15], [25], [26], [27],[28], [30]
11
Perancangan test Prestasi pada Pembelajaran PAI
1.    Mahasiswa mampu:
-     Indentifikasi kawasan ukur
-     Penguraian komponen isi
-     Tipe aitem dalam tes kompetensi
-     Menentukan banyaknya aitem
1.   Indentifikasi kawasan ukur
2.   Penguraian komponen isi
3.   Tipe aitem dalam tes kompetensi
4.   Penentukan banyaknya aitem dalam Soal
1.   Kuliah dibuka dengan basmalah
2.   Teori
3.   Telaah Materi Pelajaran untuk:
-     Indentifikasi kawasan ukur
-     Penguraian komponen isi
-     Tipe aitem dalam tes kompetensi
-     Penentukan banyaknya aitem dalam Soal
4.   Penerapan dalam bentuk karangan materi PAI (bebas)

[8], [30]
12
Penulisan Aitem soal PAI
-  Dapat Membuat contoh aitem pilihan ganda untuk 10 soal

-  Dapat Membuat contoh aitem benar – salah untuk 5 soal
-  Dapat Membuat contoh aitem jawaban pendek untuk 5 soal
-  Dapat Membuat contoh aitem pasangan untuk 5 soal
-  Dapat Membuat contoh aitem Karangan (esai) untuk 3 pembahasan

Penulisan aitem Soal :
1.   Pilihan ganda,
2.   Benar – salah,
3.   Jawaban pendek,
4.   Pasangan,
5.   Karangan (esai)
1.   Kuliah dibuka dengan basmalah
2.   Penjelasan tentang soal :
a.   Pilihan ganda,
b.   Benar – salah,
c.   Jawaban pendek,
d.   Pasangan,
e.   Karangan (esai)
3.   Diskusi kelompok aitem soal
4.   Paparan Mahasiswa tentang aitem soal dan contoh dalam masing-masing aitem
[8], [29], [30]
13
Analisis Aitem
-  Mahasisiswa memahami minimal 2 karater indek aitem soal.
-  Mahasisiswa memahami Efektifitas Disktaktor
-  Mahasisiswa menguasai teori dan contoh analisis Aitem dengan bantuan komputer
-  Mahasisiswa memahami pengertian indeks Reliabilitas dan indeks validitas aitem

1.   Karater indek aitem soal.
2.   Efektifitas Disktaktor
3.   Analisis Aitem dengan bantuan komputer
4.   Indeks Reliabilitas dan indeks validitas aitem

1.  Kuliah dibuka dengan basmalah
2.  Diskusi dan penerapan tentang:
-     Karater indek aitem soal.
-     Efektifitas Disktaktor
-     Analisis Aitem dengan bantuan komputer
-     Indeks Reliabilitas dan indeks validitas aitem

[8], [29], [30]
14
Evaluasi dan Remedial
-  Mahasiswa mampu menyebutkan jenis Evaluasi
-  Mahasiswa mampu menyebutkan macam-macam Evaluasi
-  Mahasiswa mampu membuat contoh Evaluasi
-  Mahasiswa mampu membuat desain Evaluasi untuk Remidal

1.     Jenis Evaluasi
2.     Macam Evaluasi
3.     Desain Evaluasi Remidial  
1.  Kuliah dibuka dengan basmalah
2.  Praktik Pembuatan Evaluasi
3.  Mendesain evaluasi Remidial
4.  Praktik penilaian hasil Evaluasi dan remidial

[8], [10], [16], [30]
Daftar Referensi
ü Wajib
1.   Ahmad Tafsir, Metodologi Pengajaran Agama Islam, Remaja Rosda: Bandung, 1998.
2.   Arif S. Sadiman, (dkk), Media Pendidikan, Pengertian dan Pemanfaatanya, Jakarta: RajaGrafindo, 2012.
3.   C. Asri Budiningsih, Belajar & Pembelajaran, Jakarta: Rineka Cipta, 2012
4.   Hamzah B. Uno, Model Pembelajaran Menciptakan Proses Pembelajaran yang Kreatif dan Aktif, Jakarta: Bumi Aksara, 2008
5.   _______ dan Abdul Karim Rauf, Desain Pembelajaran, (Gorontalo: Sultan Amai Press, 2008.
6.   Khaerudin, (dkk), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Konsep dan Implementasi di Madrasah, Semarang: Pilar Media 2007
7.   Oemar Hamalik, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan Sistem, Jakarta: Bumi Aksara, 2005.
8.   Siafudin Azwar, Tes Prestasi Fungsi dan Pengembangan Pengukuran Prestasi Belajar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007
9.   Sutirna, Perkembangan dan Pertumbuhan Peserta Didik, Yogyakarta: Andi Offset, 2013
10. Syaiful Bahri Djamarah, Strategi Belajar Mengajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2010
11. Trianto, Model Pebelajaran Terpadu, Jakarta: Bumi Aksara, 2010
12. Wina Sanjaya, Strategi Pembelajaran Berorintasi Strategi Proses Penddikan, Jakarta: Kencana, 2011.
13. Zakiyah Daradjat dkk, Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, Jakarta: Bumi Aksara, 2000
ü  Disarankan :
15. M. Dian Nafi', (dkk), Praksis Pembelajaran Pesantren, Yogyakarta: Lkis, 2007
16. Mulyono Abdurrahman, Pendidikan Bagi Anak Berkeulitan Belajar, Jakarta: Rineka Cipta, 2010
17. Pedoman Penyusunan Kalender Pendidikan Tahun Pelajaran 2014/2015 Propinsi Jawa Tengah Dinas Pendidikan 2014
18. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia NOMOR: 22, 23, 24 Tahun 2006.
19. Sitiatava Rizema Putra, Desain Belajar Mengajar Kreatif Berbasis Sains, Yogyakarta: Diva Press, 2013.
20. Sunarto dan B. Agung Hartono, Perkembangan Peserta Didik, Jakarta: Rineka Cipta, 2008
21.  Roestiyah N,K. Masalah Pengajaran sebagai suatu sistem, Jakarta: Rineka Cipta. 1994.
22.  Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang mempengaruhinya, Jakarta: Rineka Cipta 2010
23.  Nur Setiyo Budi Widarto (Terj), Hasrat Untuk Belajar, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2004
SUMBER BELAJAR:
24. Kalender Pendidikan
25. Program Tahunan,
26. Program Semesteran,
27. Silabus Pembelajaran
28. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran
29. Aitem Soal
30. Buku Materi PAI (untuk : MI/SD/SDB, MTs/SMP/SMPLB, MA/SMA/SMALB)

PERSENTASE PENILAIAN

Tugas
30 %
UTS
30 %
UAS
30 %
Kehadiran
10%

Disusun oleh :
Diperiksa oleh :
Disahkan oleh :




Ahmad Mukhlasin, S.Pd.I., M.Pd.I
Penanggungjawab Keilmuan



Hj. Ma'rifah, S.Pd
Ketua Jurusan/Program Studi



Hj. Ma'rifah, S.Pd
Dekan



Lumaur Ridlo, S.Psi, M.Pd







Sunday, 19 October 2014

PEMBAHASAN PERKULIAHAN MATA KULIAH SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

PEMBAHASAN PERKULIAHAN
MATA KULIAH SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
SEMESTER 3 IAIIG / UNUGHA CILACAP TAHUN 2014-2015
DOSEN PENGAMPU : AHMAD MUKHLASIN, S.Pd.I., M.Pd.I

A.    PENGERTIAN dan METODE SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
a.       Pengertian Sejarah Pendidikan Islam
b.      Metode Sejarah Pendidikan Islam
B.     PERIODESASI SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
1.      Pendidikan Islam Periode Nabi Muhammad S.A.W
a.       Pelaksanaan Pendidikan Islam di Makkah
b.      Pelaksanaan Pendidikan Islam di Madinah
2.      Pendidikan Islam Periode Khulafaur Rasyidin
a.       Abu Bakar ash-Shidiq
b.      Umar bin Khottab
c.       Utsman bin Affan
d.      Ali bin Abi Thalib
3.      Pendidikan Islam Masa Umawiyyah di Damsyik
a.       Sistem Pendidikan Islam Pada Masa Umayyah
b.       Tempat dan Lembaga Pendidikan
c.       Metode Pembelajaran
4.      Pendidikan Islam Masa Kekuasaan Abasiyyah di Baghdad (750-125 M)
a.       Awal Berdirinya Bani Abbasiyah
b.      Sistem Pemerintahan, Politik dan Bentuk Negara
c.       Perkembangan Intelektual
d.      Perkembangan Peradaban di Bidang Fisik
e.       Strategi Kebudayaan dan Rasionalitas 
5.      Akulturasi Islam Ke Budaya Jawa Oleh Wali Songo
a.       Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim)
b.      Sunan Ampel (Raden Rahmat)
c.       Sunan Bonang (Makdhum Ibrahim)
d.      Sunan Drajat
e.       Sunan Kudus
f.       Sunan Giri
g.      Sunan Kalijaga
h.      Sunan Muria (Raden Umar Said)
i.        Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayatullah)

Tuesday, 14 October 2014

PENGERTIAN dan METODE SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM

PENGERTIAN dan METODE SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM





 A.    PENGERTIAN SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
1.      Pengertian Sejarah
a.       Secara Etimologi
Menurut Louis Ma’luf seperti yang dikutip oleh Drs. Hasbullah, di dalam bahasa Arab, perkataan sejarah disebut tarikh atau sirah yang berarti ketentuan masa atau waktu, dan ‘ilm tarikh yang berarti ilmu yang mengandung atau membahas penyebutan peristiwa atau kejadian, masa atau terjadinya peristiwa, dan sebab-sebab terjadinya peristiwa tersebut. Di dalam bahasa Inggris sejarah disebut history yang berarti uraian secara tertib tentang kejadian-kejadian di masa lampau (orderly description of past event). Sedangkan sejarah sebagai cabang ilmu pengetahuan mengungkapkan peristiwa masa silam, baik peristiwa politik, sosial, maupun ekonomi pada suatu bangsa atau negara, benua atau dunia.
b.      Secara Terminologi
Majdi Wahab dalam bukunya Kamil Al-Muhandis, Mu’jam Al-Mushthalahat al-arabiyah fi Al-lughah wa Al-Adab seperti yang telah dikutip oleh Drs Hasbullah menyebutkan bahwa sejarah secara terminologi diartikan sebagai sejumlah keadaan dan peristiwa yang terjadi di masa lampau, dan benar-benar terjadi pada diri individu dan masyarakat, sebagaimana benar-benar terjadi pada kenyataan-kenyataan alam dan manusia.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, sejarah berarti silsilah, asal-usul (keturunan), kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi di masa lampau. Sedangkan ilmu sejarah adalah pengetahuan atau uraian tentang peristiwa-peristiwa dan kejadian-kejadian yang benar-benar terjadi di masa lampau. Menurut H. Munawir Cholil, ilmu sejarah merupakan suatu pengetahuan yang gunanya untuk mengetahui keadaan-keadaan atau kejadian-kejadian yang telah lampau maupun yang sedang terjadi di kalangan umat.
Jadi, inti pokok dari sejarah selalu sarat dengan pengalaman-pengalaman penting yang menyangkut perkembangan keseluruhan keadaan masyarakat. Hal ini senada dengan pendapat Sayyid quthub yang menyatakan bahwa sejarah bukanlah peristiwa-peristiwa, melainkan tafsiran peristiwa-peristiwa dan pengertian mengenai hubungan-hubungan nyata dan tidak nyata yang menjalin seluruh bagian serta memberikan dinamisme dalam waktu dan tempat.

2.      Pengertian Pendidikan Islam
Pendidikan Islam yaitu suatu proses bimbingan dari pendidik terhadap perkembangan jasmani, rohani, dan akal peserta didik ke arah terbentuknya pribadi muslim yang baik. Karena ia merupakan alat yang dapat difungsikan untuk mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan hidup manusia (sebagai makhluk pribadi dan sosial) kepada titik optimal kemampuannya untuk memperoleh kesejateraan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat. Dalam hal ini, maka kedayagunaan pendidik sebagai alat pembayaran sangat bergantung pada pemegang alat kunci yang banyak menentukan keberhasilan proses pendidikan , yang telah berkembang di berbagai daerah dari sistem yang paling sederhana menuju sistem pendidikan Islam yang modern. Dalam perkembangan pendidikan Islam, di dalam sejarahnya menunjukan perkembangan dalam subsistem yang bersifat operasional dan teknis terutama tentang metode, alat-alat dan bentuk kelembagaan. Adapun hal yang menjadi dasar dan tujuan pendidikan Islam tetap dapat dipertahankan sesuai dengan ajaran Islam dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Pendidikan Islam menurut Zakiah Darajat merupakan pendidikan yang lebih banyak ditunjukkan kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan, baik bagi keperluan diri sendiri maupun orang lain yang bersifat teoritis dan praktis. Dari berbagai pengertian pendidikan Islam di atas dapat kita simpulkan bahwa pendidikan Islam adalah proses bimbingan dari pendidik yang mengarahkan anak didiknya kepada perbaikan sikap mental yang akan terwujud dalam amal perbuatan dan terbentuknya pribadi muslim yang baik.

3.      Pengertian Sejarah Pendidikan Islam
Berdasarkan pengertian-pengertian yang dipaparkan di atas, dapat dirumuskan tentang pengertian sejarah pendidikan Islam, yaitu :
a.       Catatan peristiwa tentang pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam dari sejak lahirnya hingga sekarang ini.
b.      Satu cabang ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan pertumbuhan dan perkembangan pendidikan Islam, baik dari segi gagasan atau ide-ide, konsep, lembaga maupun operasi onalisasi sejak zaman Nabi Muhammad SAW hingga saat ini.

B.     METODE SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
Mengenai metode sejarah pendidikan Islam, walaupun terdapat hal-hal yang sifatnya khusus, berlaku kaidah-kaidah yang ada dalam penulisan sejarah. Kebiasaan dari penelitian dan penulisan sejarah meliputi suatu perpaduan khusus keterampilan intelektual. Sejarahwan harus menguasai alat-alat analisis untuk menilai kebenaran materi-materi sebenarnya, dan perpaduan untuk mengumpulkan dan menafsirkan materi-materi tersebut kedalam kisah yang penuh makna, sebagai seorang ahli, sejarahwan harus mempunyai sesuatu kerangka berpikir kritis baik dalam mengkaji materi maupun dalam menggunakan sumber-sumbernya. Untuk memahami sejarah pendidikan Islam diperlukan suatu pendekatan atau metode yang bisa ditempuh adalah keterpaduan antara metode deskriptif, metode komparatif dan metode analisis sistensis. Dengan metode deskriptif, ajaran-ajaran Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw, yang termaktub dalam Al-Qur’an dijelaskan oleh As-sunnah, khususnya yang langsung berkaitan dengan pendidikan Islam dapat dilukiskan dan dijelaskan sebagaimana adanya. Pada saatnya dengan cara ini maka yang terkandung dalam ajaran Islam dapat dipahami.
Metode komparatif mencoba membandingkan antara tujuan ajaran Islam tentang pendidikan dan tuntunan fakta-fakta pendidikan yang hidup dan berkembang pada masa dan tempat tertentu. Dengan metode ini dapat diketahui persamaan dan perbedaan yang ada pada dua hal tersebut sehingga dapat diajukan pemecahan yang mungkin keduanya apabila terjadi kesenjangan.
Metode analisis sinsesis digunakan untuk memberikan analisis terhadap istilah-istilah atau pengertian-pengertian yang diberikan ajaran Islam secara kritis, sehingga menunjukkan kelebihan dan kekhasan pendidikan Islam. Pada saatnya dengan metode sintesis dapat diperoleh kesimpulan-kesimpulan yang akurat dan cermat dari pembahasan sejarah pendidikan Islam. Metode ini dapat pula didayagunakan untuk kepentingan proses pewarisan dan pengembangan budaya umat manusia yang Islami.
Dalam penggalian dan penulisan sejarah pendidikan Islam ada beberapa metode yang dapat dipakai antaranya :
1.      Metode Lisan dengan metode ini pelacakan suatu obyek sejarah dengan menggunakan interview.
2.      Metode Observasi dalam hal ini obyek sejarah diamati secara langsung.
3.      Metode Documenter dimana dengan metode ini berusaha mempelajari secara cermat dan mendalam segala catatan atau dokumen tertulis.



SUMBER BACAAN


A. Mustafa, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia.

Armai Arief, Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Lembaga Pendiidikan Islam klasik, Bandung: Percetakan Angkasa.

Depdikbud RI, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1988.

Drs. Hasbullah, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia Lintasan Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangannya,PT Raja Grafindo Persada, Jakarta, 1994.

--------------------, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Jakarta: PT Raja Garfindo Persada, 1995.

Enung K Rukiati, Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia, Bandung: CV Pustaka Setia.

H. Munawir Cholil, Kelengkapan tarikh Nabi Muhammad SAW, Bulan Bintang, Jakarta, 1976.

Sayyid Quthub, Konsepsi sejarah Dalam Islam, Yayasan Al-Amin, Jakarta, 1984.

Monday, 15 September 2014

Peradaban dan modernisasi Pendidikan dalam Siratan Hadits Nabi S.A.W



    1. Hadist Anas bin Malik tentang Membuat Mudah, Gembira dan    Kompak
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يَسِّرُوا وَلاَ تُعَسِّرُوا وَبَسِّرُواوَلاَتُنَفِّرُوا (اخرجه البخاري في كتاب العلم(
Artinya: Dari Anas bin Malik dari Nabi SAW ”mudahkanlah dan jangan kamu persulit. Gembirakanlah dan jangan kamu membuat lari”. (HR. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori al-Ju’fi)

Hadist di atas menjelaskan bahwa proses pembelajaran harus dibuat dengan mudah sekaligus menyenangkan agar siswa tidak tertekan secara psikologis dan tidak merasa bosan terhadap suasana di kelas, serta apa yang diajarkan oleh gurunya. Dan suatu pembelajaran juga harus menggunakan metode yang tepat disesuaikan dengan situasi dan kondisi, terutama dengan mempertimbangkan keadaan orang yang akan belajar. Meskipun dalam Islam banyak hal yang telah dimudahkan oleh Allah akan tetapi perlu diperhatikan bahwa maksud kemudahan Islam bukan berarti kita boleh menyepelekan syari’at Islam dalam hal pendidikan, mencari-cari ketergelinciran atau mencari pendapat lemah sebagian ulama agar kita bisa seenaknya, namun kemudahan itu diberikan dengan alasan agar kita selalu melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

2.      Hadist Aisyah tentang Menyampaikan Perkataan yang Jelas dan Terang
عَنْ عَائِشَةَ رَحِمَهاَاللهُ قَالَتْ كَانَ كَلاَمُ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلاَماً فَصْلاَيَفْهَمُهُ كُلُّ مَنْ سَمِعَهُ (اخرجه ابوداود في كتاب الادب)
Artinya: Dari Aisyah rahimahallah berkata: ”Sesungguhnya perkataan Rasulullah SAW adalah perkataan yang jelas memahamkan setiap orang yang mendengarnya. (HR. Abu Daud Sulaiman ibn al-Asy’as al-Sjastani al-Azdi)

Hadist tersebut untuk kita sebagai calon guru agar dalam pengucapan suatu perkataan hendaklah dengan terang dan jelas, supaya orang yang mendengarkan (peserta didik) dapat memahami maksud yang disampaikan. Dan apabila dengan ucapan pertamanya belum menjelaskan kepada murid, ,maka guru itu wajib mengulanginya agar murid tersebut bisa paham dalam pembelajaran yang disampaikan oleh guru. Perkataan yang jelas dan terang akan menjadi salah satu faktor keberhasilan suatu pendidikan, karena jika tidak demikian dikhawatirkan nantinya akan terjadi salah pengertian, ketika terjadi salah pengertian bukan tidak mungkin justru peserta didik akan melenceng dari yang diharapkan. Diharapkan dengan adanya perkataan yang jelas dan terang tersebut anak didik mampu mmenyerap dan memahami apa yang diharapkan oleh pendidik.

3.       Hadist Abu Hurairah tentang Metode Cerita (Kisah)
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِي الله عَنْه اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ بَيْنَا رَجُلُ يَمْشِي فَاشْتَدَّ عَلَيْهِ العَطَشُ فَنَزَلَ بِئْرًا فَشَرِبَ مِنْهَا ثُمَّ خَرَجَ فَاِذَا هُوَ بِكَلْبٍ يَلْهَثُ يَأْكُلُ الثَّرَى مِنَ العَطَشِ فَقَالَ لَقَدْ بَلَغَ هَذَا مِثْلُ الَّذِي بَلَغَ بِي فَمَلاَ خُفَّهُ ثُمَّ أَمْسَكَهُ بِفِيْهِ ثُمَّ رَقِيَ فَسَقَى الكَلْبَ فَشَكَرَ اللهُ لَهُ فَغَفَرَ لَهُ قَالُوا يَارَسُوْلَ اللهِ وَإِنَّ لَنَا فِي البَهَا ئِمِ أَجْرًا قَالَ فِي كُلِّ كَبِدٍرَطْبَةٍ أَجْرٌ (اخرجه البخاري في كتاب المشقات)
Artinya: Dari Abu Hurairah r.a. sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: ”Ketika seorang laki-laki sedang berjalan-jalan, tiba-tiba ia merasakan sangat haus sekali. Kemudian ia menemukan sumur lalu ia masuk kedalamnya dan minum, kemudian ia keluar (dari sumur) kemudian datang seekor anjing yang menjulur-julurkan lidahnya ia menjilati tanah karena sangat haus, lelaki itu berkata: anjing sangat haus sebagaimana aku, kemudian ia masuk kedalam sumur lagi dan ia memenuhi sepatunya (dengan air) kemudian (ia naik lagi) sambil menggigit sepatunya dan ia memberi minum anjing itu kemudian Allah bersyukur kepadanya dan mengampuninya. Sahabat bertanya: ”Wahai Rasulullah, adakah kita mendapat pahala karena menolong hewan?”, Nabi menjawab: ”Disetiap yang mempunyai limpa hidup ada pahalanya.”(HR. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori al-Ju’fi)


Dari hadist di atas menerangkan bahwa apabila kita berbuat baik kepada sesama makhluk Allah SWT walaupun perbuatan tersebut hanya sebesar biji jagung, maka perbuatan kita akan mendapat pahala dan ridho Allah SWT. Misalnya memberi minum hewan yang najis. Sehingga dapat dijelaskan bahwa pendidikan metode kisah atau cerita ini dapat menimbulkan kesan mendalam pada jiwa seorang anak didik, sehingga dapat membuka hati nuraninya dan berupaya melakukan hal-hal yang baik dan menjauhkan dari perbuatan yang buruk sebagai dampak dari kisah itu, apalagi penyampaikan kisah-kisah tersebut dilakukan dengan cara menyentuh hati dan perasaan. Al-Qur’an mempergunakan meode cerita untuk seluruh pendidikan dan bimbingan yang mencakup seluruh metodologi pendidikannya, yaitu untuk pendidikan mental, akal dan jasmani serta menaruh jaringan-jaringan yang berlawanan yang terdapat didalam jiwanya itu, pendidikan melalui teladan dan pendidikan melalui nasehat. Oleh karena itu, cerita merupakan kumpulan bimbingan yang snagat baik.

4.       Hadist Abu Hurairah tentang Metode Tanya Jawab
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَجُلُ يَا رَسُوْلَ اللهِ مَنْ أَحَقُّ النَّاسِ بِحُسْنِ الصُّحْبَةِ؟ قَالَ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أُمُّكَ ثُمَّ أَبُوْكَ ثُمَّ أَدْنَاكَ أَدْنَاكَ (أخرجه مسلم في كتاب البروالصلة والاداب
Artinya: Dari Abi Hurairah, ia berkata: ada seorang laki-laki datang pada Rasulullah SAW kemudian ia bertanya: ”Wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak aku hormati?”. Beliau menjawab Ibumu, ia berkata kemudian siapa?” Beliau menjawab kemudian ibumu, ia berkata kemudian siapa? Beliau menjawab kemudian ibumu, ia berkata kemudian siapa? Beliau menjawab kemudian Bapakmu dan saudara-saudara dekatmu.(HR. Muslim bin al-Hijaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburi)

Hadist di atas menerangkan bahwa suatu ketika ada seseorang laki-laki datang kepada Rasulullah, kemudian bertanya tentang orang-orang yang paling berhak untuk dihormatinya. Kemudian terjadilah dialog antara Rasulullah dan laki-laki tersebut dan Rasulullanpun mengajarinya tentang akhlak terhadap orang tuanya terutama ibunya, maka terjadilah tanya jawab antar keduanya. Metode tanya jawab merupakan metode yang paling tua digunakan disamping metode yang lain, karena metode ini banyak sekali digunakan para Nabi terdahulu. Dan dalam penggunaan metode ini, pengertian dan pemahaman akan terasa lebih mantap. Sehingga segala bentuk kesalahpahaman dan kelemahan daya tangkap terhadap pelajaran dapat dihindari semaksimal mungkin. Metode tanya jawab adalah metode mengajar yang memungkinkan terjadinya komunikasi langsung yang bersifat Two Wag Traffic, sebab pada saat yang sama terjadi dialog antara guru dengan siswa, dalam komunikasi ini terlihat adanya timbal balik secara langsung antara guru dengan siswa. Metode ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana materi pelajaran yang telah dikuasai oleh siswa, untuk merangsang siswa berfikir, dan memberi kesempatan pada siswa untuk mengajukan maslah yang belum paham.

5.      Hadist Anas bin Malik tentang Metode Diskusi
عَنْ أَنَسٍ رَضِي الله عَنْه قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًاأَوْ مَظْلُوْمًا قَالُوا يَارَسُوْلَ اللهِ هَذَا نَنْصُرُهُ ظَالِمًا قَالَ تَأْخُذُفَوْقَ يَدَيْهِ (أخرجه البخاري في كتاب الظالم والغضب(
Artinya: Dari Anas bin Malik ra, ia berkata: Rasulullah telah bersabda: tolonglah saudaramu yang dzalim maupun yang didhalimi. Mereka bertanya: wahai Rasulullah, bagaimana menolong orang dzalim?, Rasulullah menjawab tahanlah (hentikan) dia dan kembalikan dari kedzaliman, karena sesungguhnya itu merupakan pertolongan kepadanya.(HR. Abu Abdillah Muhammad bin Ismail al-Bukhori al-Ju’fi)

Hadist ini menjelaskan bahwa Rasulullah SAW menganjurkan kepada kita untuk menolong orang yang dzalim dan yang didzalimi. Anas berkata ia telah menolong orang yang didzalimi, kemudian ia berkata kepada Rasulullah bagaimana cara menolong orang yang dzalim? Rasul pun menjawab untuk menghentikannya dan mengembalikannya dari kedzaliman. Diskusi terdapat pada permasalahan bagaimana cara menghentikan orang dzalim tersebut dan mengembalikan dia dari kedzalimannya. Diskusi pada dasarnya tukar menukar informasi, pendapat dan unsur-unsur penaglaman, secara teratur dengan maksud untuk mendapat pengertian bersama yang lebih jelas dan lebih teliti tentang sesuatu, atau untuk mempersiapkan dan merampungkan keputusan bersama. Oleh karena itu diskusi bukan debat atau perang mulut. Dalam diskusi tiap orang diharapkan memberikan smbangan sehingga seluruh kelompok kembali dengan paham yang dibina bersama.

6.       Hadist Abu Hurairah tentang Alat Peraga
عَنْ اَبِيْ هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَافِلُ اليَتِيْمِ لَهُ أَوْلِغَيْرِهِ أَنَا وَهُوَ كَهَاتَيْنِ فِي الجَنَّةِوَأَشَارَمَالِكٌ بِالسَّبَّابَةِوَالوُسْطَى (اخرجه مسلم في الزهدوالرقائق(
Artinya: ”Dari Abu Hurairah berkata, Rasulullah SAW bersabda : ” Aku akan bersama orang-orang yang menyantuni anak yatim di surga akan seperti ini (Rasulullah menunjukkan dua jari, jari telunjuk dan tengah yang saling menempel)”.(HR. Muslim bin al-Hijaj Abu al-Husain al-Qusyairi al-Naisaburi)

Hadits ini memang tidak secara eksplisit menerangkan tentang penggunaan alat peraga dalam metode pengajaran akan tetapi secara implisit Nabi Muhammad SAW memberikan contoh tentang penggunaan alat peraga dalam memberikan penjelasan dengan cara menunjukkan kedua jari Beliau sebagai perumpamaan. Dari hadits ini kita mendapati bahwa dalam memahami konsep yang abstrak, kita membutuhkan suatu media yang kongkrit agar pengetahuan menjadi mudah dipahami. Alat peraga merupakan salah satu komponen penentu efektivitas belajar. Alat peraga mengubah materi ajar yang abstrak menjadi kongkrit dan realistik. Penyediaan alat peraga merupakan bagian dari pemenuhan kebutuhan belajar sesuai dengan tipe belajar siswa. Pembelajaran menggunakan alat peraga berarti mengoptimalkan fungsi seluruh panca indera siswa untuk meningkatkan efektivitas belajar siswa dengan cara mendengar, melihat, meraba dan menggunakan pikirannya secara logis dan realistis. Ada beragam jenis alat peraga pembelajaran, mulai dari benda aslinya, tiruannya, yang sederhana sampai yang canggih, diberikan di dalam kelas atau luar kelas. Bisa juga berupa bidang dua dimensi (gambar), bidang tiga dimensi (ruang), animasi/flash (gerak), video (rekaman atau simulasi). Teknologi telah mengubah harimau yang ganas yang tidak mungkin dibawa dalam kelas bisa tampak di dalam kelas dalam habitat kehidupan yang sesungguhnya.